Dua anggota kartel itu tewas pada Jumat (29/1) setelah mereka menembaki polisi federal Meksiko yang mengepung sebuah bangunan yang terletak di gurun kecil di luar kota kecil di Meksiko. Menurut pernyataan dari polisi federal Meksiko, wilayah itu diduga menjadi tempat operasi penyelundupan narkoba dan imigran.
"Karena sifatnya sensitif, operasi ini dilakukan dengan kerahasiaan maksimal untuk menjamin keamanan aparat penegak hukum Meksiko yang menjalankan operasi ini," bunyi pernyataan dari juru bicara Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE), Gillian Christensen pada Sabtu (30/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Meksiko Perketat Keamanan Sel El Chapo |
Juru bicara polisi federal yang tak mau disebutkan namanya menegaskan bahwa lebih dari 20 orang yang ditangkap merupakan anggota kartel Sinaloa.
Beroperasi di sekitar Sonoyta, sebuah kota di sepanjang perbatasan Meksiko dengan negara bagian Arizona, AS, kartel Sinaloa telah menyelundupkan jutaan obat-obatan terlarang, jutaan dolar AS dan senjata antara kedua negara.
Lihat juga:Kartel Narkoba Kuasai Pemberitaan di Meksiko |
Operasi gabungan ini merupakan bukti lebih lanjut dari hubungan yang lebih kooperatif antara Amerika Serikat dan Meksiko dalam menindak kartel yang bertanggung jawab atas perdagangan narkoba bernilai miliaran dolar setiap tahun.
Pihak berwenang Meksiko mendapat bantuan dari Washington untuk menangkap kembali Guzman pada awal Januari lalu, yang sebelumnya buron selama enam bulan setelah berhasil kabur dari penjara dengan keamanan tingkat tinggi.
Operasi ini berlangsung beberapa hari sebelum kausus calon presiden AS dari Partai Republik maupun Demokrat. Salah satu kandidat calon presiden dari Republik, Donald Trump menyerukan pembangunan tembok di sepanjang perbatasan AS dengan Meksiko. (ama/stu)