Seorang juru bicara Kepolisian Kriminal Federal Jerman (BKA) mengatakan total 4.749 anak dan remaja tak berpendamping itu dilaporkan hilang sejak memasuki negara tersebut.
Sekitar 10 persen dari keseluruhan anak yang hilang masih berusia di bawah 13 tahun, sementara 4.387 lainnya berumur 14 dan 17 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pelakunya tidak harus paedofil. Mereka memiliki penyakit yang kebanyakan orang di seluruh penjuru dunia punya, yaitu mereka tidak peduli bagaimana caranya mendapatkan uang," ujar Hilgers kepada Frankfurter Rundsch seperti dikutip RT.
Perwakilan dari Asosiasi Jerman untuk Pengungsi Bawah Umur Tak Berpendamping, Niels Espenhorst, menyalahkan pemerintah atas kesalahan proses pendaftaran di Jerman yang berujung pada tak terlacaknya keberadaan anak-anak tersebut.
"Bukan hanya sistem bagaimana pengungsi datang ke Eropa, tapi juga bagaimana proses registrasi di Jerman," ucapnya.
Menurut kepala staf Europol, Brian Donald, setidaknya 5.000 anak hilang di Italia dan 1.000 lainnya di Swedia.
Sementara itu, lembaga Save the Children memperkirakan sekitar 26 ribu pengungsi anak-anak tiba di Eropa pada 2015. Sejauh ini, telah tercatat banyak kasus pelecehan seksual, kekerasan, dan pemerasan yang melibatkan pengungsi anak-anak.
“Anak-anak ini butuh dan pantas mendapat pertolongan dan perlindungan kita. Ditinggal untuk menghidupi diri sendiri, anak-anak yang [pergi] sendiri ini sangat rentan di sepanjang rute pengungsi. Anak-anak dilaporkan dipukuli, diperas dan dilecehkan secara seksual dalam perjalanan mereka,” kata CEO Save the Children, Justin Forsyth. (stu)