Dalam tulisan di blog resmi milik Twitter pada Jumat (5/2), Twitter menyatakan hanya memblokir akun yang dilaporkan oleh sejumlah akun lainnya. Meski demikian, Twitter mengklaim telah meningkatkan jumlah tim yang bertugas memonitor dan merespon laporan dalam waktu yang cepat.
Lihat juga:Penganut Islam Radikal di Perancis Meningkat |
Silicon Valley telah mewaspadai permintaan semacam ini akan melibatkan perusahaan teknologi dengan pejabat pemerintah. Pasalnya, permintaan semacam ini akan berbeda-beda setiap negara. Perusahaan teknologi juga khawatir produknya dicap sebagai alat pemerintah oleh konsumen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:China Kurangi Masa Tahanan 11 Napi Terorisme |
Wakil Direktur program ekstremisme dari George Washington University, Seamus Hughes, menyatakan bahwa penutupan lebih dari 100 ribu akun Twitter itu merupakan "jumlah yang mengesankan," namun Twitter memfokuskan pemantauannya terhadap konten ekstremis yang menyerukan cuitan bersambung.
Akibat tindakan keras Twitter, Hughes menambahkan bahwa banyak ekstremis bermigrasi ke sosial media yang lebih kecil, yang kurang dipantau dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, dalam blog itu, Twitter mengungkapkan bahwa mereka telah berkerja sama dengan penegak hukum yang tepat.
Twitter menyatakan tengah mencoba untuk menciptakan keseimbangan agar dapat menerapkan peraturannya kepada akun yang menyebarkan konten perilaku yang dilarang dengan penegakan hukum dan keinginan agar konsumen menikmati produk mereka. (ama/ama)