Seperti diberitakan Reuters, kerusuhan yang terjadi pada Selasa (9/2) pagi ini merupakan bentrokan terburuk sejak protes pro-demokrasi pada 2014 lalu, salah satu aksi perubahan politik terbesar di Beijing selama beberapa dekade.
Para pengunjuk rasa melemparkan batu ke arah polisi ketika baku hantam terjadi, sementara demonstran lainnya membakar tempat-tempat sampah di ruas-ruas jalan di Mong Kok, daerah yang terletak tepat di seberang pelabuhan dekat jantung finansial Asia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasca kerusuhan ini, tempat sampah, puing baru, dan botol-botol bekas terlihat berserakan di sepanjang jalan Nathan Road. Stasiun kereta api di Mong Kok ditutup sementara.
Sementara itu, tiga polisi dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Petugas kepolisian mengatakan kepada Reuters bahwa mereka sedang menunggu arahan untuk rencana keamanan pada Selasa malam.
Seorang penjaga keamanan, Paul Lee, mengatakan, "Ini bukan pertama kali ada kekerasan di Mong Kok. Saya sangat kecewa dengan pemerintah."
Harian South China Morning Post memberitakan bahwa kerusuhan tersebut juga melibatkan oknum dari Hong Kong Indigenous, organisasi warga pribumi yang turut mencalonkan diri dalam pemilihan umum Dewan Legislatif beberapa pekan mendatang. (den)