Studi yang dilakukan dalam periode 13 bulan ini menganalisis pemberitahuan kematian 89 remaja dan anak di bawah umur ketika menjalankan tugas dari ISIS di media sosial Twitter dan aplikasi Telegram yang terenkripsi.
Setidaknya 39 persen tentara anak berusia di bawah 18 tahun dan tewas karena melakukan serangan bom mobil. Sebanyak 33 persen tentara anak lainnya tewas sebagai tentara jihad sementara 18 persen lainnya tewas dalam peperangan sebelum akhirnya meledakkan diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memprediksi jika implementasi [perekrutan tentara anak] terus meningkat, maka laporan jumlah kematian anak pun akan meningkat," bunyi hasil penelitian tersebut.
Menurut studi itu, tentara anak direkrut karena cenderung bersedia berjuang bersama, namun tidak dapat menggantikan militan lelaki dewasa.
Studi itu menunjukkan, sebagian besar tentara anak yang tewas ketika menjalani misi ISIS merupakan warga negara Irak atau Suriah. Setengah dari tentara anak itu tewas di Irak.
Meski demikian, propaganda yang dilakukan ISIS itu tidak menyebutkan para tentara anak ini sebagai martir. "Usia para martir tidak pernah dipublikasikan. Bagi mereka yang menyebarkan propaganda ISIS, usia muda para martir hanyalah suatu kebetulan. (ama)