AS dan Korsel dijadwalkan pada Selasa (23/2) menandatangani kesepakatan pembentukan kelompok kerja bersama untuk menempatkan satu unit sistem pertahan rudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) di Korsel, demi mengantisipasi ancaman rudal Korea Utara.
Sistem THAAD mampu meluncurkan rudal anti-balistik ke langit untuk menghancurkan rudal musuh baik dari dalam atau luar atmosfer bumi di tingkat akhir penerbangan. Namun, rudal intersepsi itu tidak membawa hulu ledak dan hanya mengandalkan energi kinetik untuk menghancurkan target mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China menentang pengerahan sistem THAAD yang diusulkan tersebut. Juru bicara kementerian luar negeri China, Hua Chunying memperingatkan pada Senin (22/2) bahwa sistem itu tidak boleh digunakan sebagai upaya untuk "melemahkan kepentingan (keamanan) China."
Kementerian Pertahanan Korea Selatan menegaskan pada Selasa bahwa sistem pertahanan rudal AS hanya menargetkan Korea Utara dan bahwa pengerahan sistem rudal itu merupakan urusan antar kedua sekutu.
Kemenhan Korsel menyatakan mereka berharap pembicaraan resmi soal sistem THAAD akan kembali dimulai pekan depan setelah kedua belah pihak mendirikan kelompok kerja bersama akhir pekan ini.
Hubungan antara Korut dan Korsel kian panas setelah Pyongyang meluncurkan roket pada awal Februari lalu. Korut mengklaim bahwa mereka meluncurkan satelit pengawas bumi, namun sejumlah negara sekutu Barat menilai Korut meluncurkan roket yang dapat membawa hulu ledak nuklir, yang dapat mengganggu stabilitas keamanan.
Sejumlah laporan juga menunjukkan bahwa satelit yang diklaim Korut itu rontok di orbit dan tidak mengirimkan sinyal apapun ke bumi. (ama/stu)