Menurut laporan Fox News pada Selasa (23/2), intel AS mengungkapkan terdapat sejumlah jet tempur China berjenis Shenyang J-11, atau yang disebut juga dengan "Flanker" dan Xian JH-7, atau "Flounder" di Pulau Woody, pulau yang sama tempat dua baterai dari delapan peluncur rudal jenis HQ-9 peluru kendali darat-ke-udara terlihat dari citra satelit sipil milik ImageSat Internasional.
Seorang pejabat AS yang tak dipublikasikan namanya mengungkapkan bahwa diperkirakan jumlah jet tempur itu tidak banyak, hanya "di bawah 10 [jet]."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Kerry menyatakan dia ingin China mengakhiri militerisasi di sejumlah pulau sengketa. "Kami ingin [China] menghentikan ekspansi dan militerisasi di pulau yang diduduki," kata Kerry.
Namun Kerry menolak untuk menyalahkan China langsung atas militerisasi di Laut China Selatan.
Wang seharusnya mengunjungi Pentagon pada Selasa, tapi kunjungan itu dibatalkan. Tidak jelas di balik pembatalan itu dan pihak mana yang membatalkan. Juru bicara pers untuk Pentagon, Peter Cook menyatakan "penjadwalan yang berbeda" membuat pertemuan itu batal.
Ketika ditanya soal laporan Fox terkait penyebaran rudal di Pulau Woody, Wang menyatakan, itu untuk "tujuan defensif."
Informasi soal pengerahan rudal China di Pulau Woody dikonfirmasi oleh Menteri Pertahanan Taiwan pekan lalu.
Citra yang diterima badan tersebut juga menunjukkan kemungkinan bahwa China sudah membangun gudang bawah tanah, mercusuar, helipad, peralatan komunikasi, dan dermaga beserta derek muatannya.
Laporan yang mengacu pada analisis citra satelit dari Januari hingga Februari ini juga memperlihatkan bahwa China sudah memperluas cakupan radar di bagian utara Laut China Selatan, mulai dari Pulau Paracel hingga bagian barat laut Spratly.
Hasil kajian satelit ini turut menyebut kemungkinan pembangunan radar, helipad, dan penyimpanan persenjataan di Gaven, Hughes, serta Johnson Reefs yang juga merupakan bagian dari Kepulauan Spratly. (ama/ama)