Kamar mandi tersebut memang sengaja dibangun di dekat Danau Yeak Lom, Ratanakkiri, oleh Kamboja atas permintaan Sirindhorn yang dijadwalkan singgah di daerah timur laut Kamboja tersebut pada Senin (22/2).
Namun hingga Sirindhorn mengakhiri lawatannya pada Selasa (23/2), ia sama sekali tak menggunakan toilet tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangunan kamar kecil ini sempat merebak kontroversi di Kamboja. Pasalnya, daerah tempat toilet itu dibangun merupakan salah satu daerah miskin di Kamboja.
Seperti dilansir The Independent, Ratanakkiri merupakan salah satu provinsi dengan pembangunan tertinggal di Kamboja. Penduduknya jarang dan mayoritas bekerja sebagai petani. Mereka memiliki sejarah panjang eksploitasi tambang.
Lihat juga:Tersangka Pengebom Bangkok Mengaku Disiksa |
"Kerajaan Thailand selalu mencoba menciptakan kesan bahwa mereka hidup sederhana dan mengutamakan rakyat. Namun, fakta bahwa toilet mahal dibangun di Kamboja untuk digunakan oleh Puteri Sirindhorn menunjukkan tak terhubungnya propaganda Thailand dan kenyataan," katanya.
Direktur Tim Pembangunan Pedesaan Kamboja, Channy Or, menjabarkan bahwa biaya pembangunan toilet untuk Sirindhorn lebih besar 130 kali lipat dari pendirian kamar mandi biasa di daerah tersebut.
Marshall pun kembali melontarkan protesnya dengan berkata, "Kebanyakan warga Kamboja memiliki akses terbatas untuk fasilitas kebersihan. Biaya yang dihabiskan untuk toilet ini dapat digunakan untuk menolong puluhan keluarga Khmer keluar dari kemiskinan."
Sementara itu, Thailand sendiri merupakan salah satu monarki terkaya di dunia dengan kemampuan membangun investasi bisnis besar, seperti perusahaan yang membangun toilet tersebut, Siam Cement Group, dan Siam Commercial Bank. (ama)