Menurut Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri Indonesia, Hasan Kleib, KTT Luar Biasa OKI di Jakarta dihadirkan atas permintaan Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyusul situasi yang kian buruk di Yerusalem di tengah pendudukan Israel.
Hasan mengatakan, saat ini perhatian Timur Tengah berkurang ke Palestina karena banyaknya konflik, seperti di Suriah, Yaman atau Irak. "Kami ingin mengembalikan isu Palestina ke radar," ujar Kleib di Jakarta, Kamis (3/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika dibahas di KTT reguler yang memiliki banyak agenda, isu Palestina akan tenggelam," kata Kleib lagi.
KTT Luar Biasa OKI nanti akan menghasilkan dua dokumen soal Palestina, yaitu resolusi dan deklarasi. Dokumen resolusi akan berisi konfirmasi kembali negara-negara OKI dengan fokus Palestina dan Yerusalem, yang menjadi lokasi Masjid al-Aqsa.
Hasan mengatakan, Indonesia telah merancang cetak biru deklarasi yang telah diserahkan ke para delegasi OKI. Rancangan deklarasi dan resolusi nantinya akan dibahas di pertemuan pejabat tinggi dan menteri luar negeri negara anggota OKI pada 6 Maret 2016 untuk kemudian disahkan dalam pertemuan pemimpin negara pada Senin, 8 Maret 2016.
Kuartet adalah sebutan untuk empat pihak mediator perundingan damai Palestina dan Israel, yaitu Amerika Serikat, Rusia, PBB dan Uni Eropa. Keempat anggota kuartet telah memastikan akan mengirim delegasi ke KTT OKI.