"Tadi Perdana Menteri menyampaikan ingin belajar dari pengalaman Indonesia dalam berdemokrasi. Tadi saya sudah berbicara banyak mengenai pemilu presiden, pilkada gubernur, wakil gubernur, bupati, dan wali kota. Saya kira hal-hal seperti ini yang banyak ditanyakan oleh Perdana Menteri Libya," ujar Jokowi setelah bertemu dengan Seraj.
Namun pada Februari lalu, kedua kubu akhirnya sepakat membentuk pemerintahan bersatu dan meresmikan jajaran pejabat baru. Seperti dilansir Reuters, salah satu Dewan Presiden Libya, Fathi al-Majbari, mengatakan bahwa jajaran pemerintahan tersebut terdiri dari 13 menteri dan lima menteri negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa BUMN dan swasta Indonesia sudah beroperasi di Libya dan ini akan dilanjutkan kembali setelah situasi di Libya kondusif," tutur Jokowi.
Sementara itu, kerja sama di bidang konstruksi juga terus dikembangkan. "BUMN Indonesia juga siap bekerja sama menyelesaikan bidang-bidang konstruksi dan perumahan yang ada di Libya dan Libya juga membuka diri untuk bekerja sama," katanya. (stu)