Dua puluh orang terbunuh dalam serangan di stasiun metro Maalbeek, sementara 14 korban tewas lainnya jatuh dalam pengeboman di bandara Zaventem.
Ledakan diduga menggunakan bom yang diisi oleh paku, baut, pecahan kaca atau gotri, benda-benda mematikan yang mampu menembus kulit dan tulang manusia jika terlontar dengan kecepatan kilat. Hal ini terlihat dalam sebuah hasil rontgen korban ledakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi mengenaskan juga dialami para korban lainnya. Benda-benda tajam memotong kaki para korban, kondisi mengerikan ini disampaikan oleh para saksi mata.
"Saya membawa lima orang yang meninggal dunia, kaki mereka hancur," kata seorang warga, Alphonse Youla, 40, yang bekerja di bandara Zaventem.
Dia mengatakan, dua ledakan terjadi, meruntuhkan atap bandara. Orang-orang bertumbangan, darah dimana-mana.
"Sedikitnya ada enam atau tujuh orang yang kedua kakinya benar-benar hancur. Banyak yang kehilangan kakinya. Seorang pria kehilangan kedua kakinya, dan ada seorang polisi yang kakinya menjuntai," lanjut Youla lagi, yang diberitakan The Telegraph.
"Saya masuk ke dalam dengan seorang teman. Semuanya hancur, ada kolam darah dengan orang-orang yang terluka, anggota-anggota tubuh yang terpotong," ujar Lenaerts.
Seorang calon penumpang, Pahel Ohal, hendak berlibur ke Denver, Amerika Serikat, bersama keluarganya saat ledakan terjadi. Reruntuhan atap bandara menimpa mereka.
Putra Ohal yang berusia dua tahun harus dijahit kepalanya karena terluka. Telinga mereka semua terasa terbakar karena bunyi ledakan yang hebat.
Di tengah kepanikan, anehnya, yang Ohal cari adalah paspornya. "Saya tidak bisa berpikir tenang. Saya menarik mereka dan lari," kata dia, dikutip CNN.
Serangan ini terjadi selang empat hari setelah polisi menangkap satu-satunya pelaku yang selamat dalam serangan di Paris tahun lalu, yang menewaskan 130 orang, Salah Abdeslam.
Pemerintah Belgia mencanangkan tiga hari masa berkabung.