“Satu ibu warga negara Indonesia dan satu anak perempuan kritis di ICU,” ujar Arrmanatha Nasir, juru bicara Kementerian Luar Negeri, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (24/3).
Arrmanatha menjelaskan bahwa WNI perempuan ini sedang bersama dua anaknya di bandara saat ledakan terjadi. Kedua anak tersebut terdiri dari satu putri berusia 4 tahun dan seorang putra berumur 6 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Menurut keterangan dari Etihad, saat check in ibu itu menggunakan paspor Indonesia, satu anaknya yang perempuan juga menggunakan paspor Indonesia, sementara satu anak laki-lakinya tidak lagi menggunakan paspor Indonesia,” tutur Arrmanatha.
Anak laki-laki tersebut tak memakai paspor Indonesia karena masa berlakunya judah jatuh tempo pada 2015. “Menurut hukum kita juga memang bisa anak kecil memegang dua paspor,” kata Arrmanatha.
Hingga kini, KBRI Brussels masih terus berkoordinasi dengan otoritas setempat dan mengunjungi rumah sakit rujukan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya WNI yang menjadi korban.
Lihat juga:Indonesia Rilis Imbauan Perjalanan ke Belgia |
Namun hingga kini, menurut Arrmanatha, otoritas Belanda masih kesulitan mengidentifikasi 10 korban dari ledakan di stasiun metro karena tak ditemukan kartu identitas yang melekat.
Sementara itu, pemerintah Indonesia mengeluarkan imbauan baru bagi WNI yang akan berkunjung ke Belgia.
Bagi WNI yang kini berada di Belgia, pemerintah mengimbau agar meningkatkan kewaspadaan dan menghindari tempat-tempat ramai yang berpotensi terjadi teror.
Selain itu, bagi WNI yang memerlukan bantuan dan informasi terkait situasi terkini di Belgia, KBRI Brussels membuka hotline +32 478957214 atau +32 478405728. (stu)