Pihak oposisi telah lama menuntut Assad untuk mundur dalam masa transisi pemerintahan. Namun, rezim Suriah menilai setiap pembicaraan tentang lengsernya Assad adalah tindakan yang "melanggar batas."
"Apakah terdapat kehendak rakyat untuk mengadakan pemilihan presiden dini? Jika ada, saya tidak punya masalah dengan itu," kata Assad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui pemilu tersebut, masa jabatan Assad berlangsung hingga 2021. Namun, perundingan damai yang didukung PBB di Jenewa mengharuskan adanya pemilu presiden dan parlemen dalam kurun waktu 18 bulan ke depan.
Namun, juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest menyatakan bahwa peran Assad dalam pemerintahan Suriah di masa depan "tidak akan ada."
Konflik Suriah meletus pada 2011, diawali dengan protes massal menyerukan lengsernya Assad dari tampuk kekuasaan. Aksi protes kemudian berkembang menjadi perang saudara besar-besaran selama lima tahun terakhir, menyebabkan 270 ribu orang tewas dan hampir lima juta warga melarikan diri ke negara lain, khususnya ke Eropa.
Pemerintahan itu akan membentuk ulang konstitusi dan menggelar pemilu presiden dan parlemen paling lambat pada September 2017.
Pemerintah Suriah sendiri tengah mempersiapkan pemilihan parlemen yang dijadwalkan secara rutin bulan depan. (ama/den)