Retno bertolak ke Manila pada Jumat (1/4) pagi untuk berkordinasi dengan Menlu Filipina, Jose Rene D Almendras, dilansir dari Detikcom.
"Menlu Retno dengan Menlu Filipina di Manila (1/4) intensifikasi komunikasi dan koordinasi terkait penyandraan 10 WNI," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir melalui pesan yang diterima pada Sabtu (2/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Komandan Pasukan Khusus Zambasulta (Zamboanga-Basilan-Sulu dan Tawi-Tawi), Mayor Jenderal Demy Tejares, mengatakan bahwa kapal itu dibajak di perairan Sulu pada Senin (27/3) malam lalu. Brahma 12 sudah dilepas dan kini berada di tangan otoritas Filipina, sedangkan Anand 12 dan sepuluh awaknya masih disandera.
Pemerintah Indonesia masih menunggu izin dari Filipina terkait upaya penyelamatan sandera. Pasalnya, Indonesia tidak berwenang untuk melakukan penindakan hukum atas aksi kriminal yang terjadi di luar wilayah Indonesia.
Retno sebelumnya menyampaikan bahwa dukungan pemerintah Filipina terhadap upaya pembebasan 10 ABK WNI ini sangat krusial.
Semenatara, Kepala Staf TNI-AD (KSAD) Jenderal TNI Mulyono menegaskan operasi militer terhadap kelompok Abu Sayyaf di Filipina, merupakan pilihan terakhir jika upaya negosiasi untuk membebaskan 10 warga negara Indonesia yang disandera mengalami jalan buntu. (ama)