China mengklaim sebagian besar perairan yang kaya sumber energi itu. Laut China Selatan juga merupakan salah satu jalur perdagangan tersibuk dengan nilai sekitar US$5 triliun setiap tahun. Wilayah erairan ini juga diklaim oleh sejumlah negara, termasuk Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam.
Kementerian Transportasi China menggelar "upacara penyelesaian" menandai dimulainya operasi mercusuar setinggi 55 meter di Subi Reef. Konstruksi mercusuar ini dimulai sejak Oktober, menurut laporan Xinhua pada Selasa (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum China mengeruk dan mengubahnya menjadi sebuah pulau, Subi Reef dapat tenggelam pada saat air pasang. Berdasarkan Konvensi PBB tentang hukum laut, batas 12 mil laut tidak dapat diatur di sekitar pulau buatan yang dibangun di atas terumbu karang yang sebelumnya tenggelam.
Xinhua melaporkan mercusuar yang memancarkan lampu pada malam hari ini "dapat menyediakan layanan navigasi yang efisien seperti memposisikan referensi, memandu rute, dan memberikan informasi keselamatan navigasi untuk kapal, yang dapat meningkatkan manajemen navigasi dan tanggap darurat."
Dalam laporannya, Xinhua menyebut Laut China Selatan sebagai daerah maritim dan area pemancingan utama.
"Namun, kepadatan lalu lintas, kondisi navigasi yang kompleks, kurangnya layanan bantuan dan kehadiran pasukan mengancam keselamatan navigasi dan menghambat pembangunan ekonomi dan sosial di wilayah ini," tulis Xinhua.
China memiliki proyek mercusuar di dua daerah lainnya, yakni di Cuarteron Reef dan Johnson South Reef. (ama/stu)