Bahkan, saat ini masyarakat Jepang mulai meninggalkan penyimpanan di bank dan menyimpan uang mereka di rumah. Beberapa di antaranya di dalam kasur, yang seringkali terlupakan dan terbuang.
Walau pembayaran elektronik populer di Jepang, namun uang kertas juga meningkat penggunaannya. Sirkulasi uang pecahan ini pada Februari lalu mencapai 90,4 triliun yen, bertambah 6,7 persen dari setahun sebelumnya, seperti dilaporkan koran Asahi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perubahan undang-undang pajak dan spekulasi negatif suku bunga bank menyebabkan perubahan kebiasaan menabung di sini," kata Martin Schulz, ekonom senior di Fujitsu Research Institute.
Menurut Shculz, akibat sistem pajak pendapatan global dan pajak aset global yang diterapkan di Jepang mengakibatkan banyak warga negara itu mulai meninggalkan bank dan menabung di rumah.
Lihat juga:Putin Tak Persoalkan Isu Panama Papers |
Untuk mengamankan uang mereka, kebanyakan warga menyimpannya di dalam kasur atau perabotan lain. Akibatnya, banyak terjadi insiden terkait teknik penyimpanan ini.
Salah satu kasus mengemuka tahun 2012 saat polisi di Hiroshima menerima uang yang ditemukan warga hingga 10 juta yen atau lebih dari Rp1 miliar.
Uang-uang itu ditemukan dalam berbagai perabotan rumah tangga dan terlupakan oleh para pemiliknya. (stu)