Potensi munculnya La Nina semakin besar karena fenomena El Nino yang terbesar selama 20 tahun terakhir kini mulai mereda. Fenomena El Nino menyebabkan sejumlah kerusakan tanaman di sejumlah negara. Sementara di Indonesia sendiri, El Nino membuat musim kemarau semakin panjang.
Fenomena La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. Berasal dari bahasa Spanyol yang artinya 'Gadis Kecil', fenomena La Nina biasanya dikaitkan dengan periode ketika temperatur permukaan laut selatan Laut Pasifik di sekitar utara Australia, Papua Nugini, dan kepulauan Indonesia menurun. La Nina menyebabkan sering terjadinya hujan, banjir, dan badai di daerah pasifik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pakar menyatakan La Nina dapat memengaruhi pasokan biji-bijian global, terutama gandum dan jagung. Meski fenomena La Nina menyebabkan sering terjadinya hujan di wilayah pasifik, La Nina justru menyebabkan curah hujan yang cenderung lebih rendah dari rata-rata di kawasan Amerika Utara.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, BMKG, menyatakan bahwa indikasi fenomena La Nina pada tahun ini memang ada. BMKG memonitor bahwa suhu permukaan laut saat ini masih hangat, namun berangsur menurun.
BMKG enggan mengomentari berapa besar kemungkinan fenomena La Nina tahun ini. Namun, BMKG menegaskan bahwa fenomena El Nino yang kuat biasanya disusul dengan La Nina.
"Melihat tahun-tahun sebelumnya, berdasarkan data klimatologi, biasanya kalau terjadi El Nino yang kuat ataupun sedang, diiringi dengan La Nina," ujar Hary, yang enggan mengomentari seberapa besar tingkat kategori La Nina jika fenomena cuaca itu terjadi tahun ini.
Hary juga menyatakan bahwa Indonesia tidak akan terdampak gelombang panas yang kini tengah melanda Malaysia. Pada Senin (11/4), lebih dari 250 sekolah di sejumlah wilayah di Malaysia terpaksa ditutup sementara karena temperatur mencapai di atas 37 derajat Celcius.
"Gelombang panas berkaitan dengan suhu, kelembapan dan pola tekanan di suatu daerah. Sampai saat ini banyak wilayah di Indonesia yang masih turun hujan. Jadi masih dalam situasi kemarau basah," ujar Hary memaparkan. (ama)