Kabar ini tersebar dari pemberitaan salah satu koran Jepang, Nikkei, pada edisi Jumat (22/4). Berita itu menyebutkan bahwa Obama berencana meminta izin ke pemerintah Jepang untuk mengunjungi Hiroshima pada 27 Mei, setelah pertemuan G7 rampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kunjungan pada awal bulan ini, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, memang mengatakan bahwa Obama berencana berkunjung ke Hiroshima meskipun ia sendiri belum mengetahui apakah jadwal G7 memungkinkan.
Jika benar-benar terjadi, lawatan ini akan menjadi kontroversi di Amerika Serikat apabila dilihat sebagai upaya permohonan maaf.
Mayoritas masyarakat AS memandang pengeboman Hiroshima pada 6 Agustus 1945 lampau dan Nagasaki tiga hari berikutnya merupakan upaya untuk mengakhiri perang dan menyelamatkan kehidupan di Amerika. Namun, mayoritas rakyat Jepang menganggap pengeboman itu tidak adil.
Kendati demikian, rakyat yang selamat dari insiden Hiroshima lebih fokus pada perkembangan upaya pengurangan senjata nuklir ketimbang sekadar permintaan maaf jika Obama benar-benar datang.
Harapan atas kunjungan Obama ini sebenarnya mulai muncul ketika sang presiden berpidato di Praha pada April 2009 lalu. Ia menyerukan dunia tanpa senjata nuklir. Obama kemudian mengatakan bahwa dia akan melakukan kunjungan kehormatan ke kota-kota yang pernah menjadi korban serangan nuklir.
Ketika melakukan tur di Museum Kenangan Perdamaian Hiroshima, Kerry menyebut benda-benda yang dipajang sangat memilukan dan mengatakan bahwa semua orang harus berkunjung ke sana.
Benda yang dipampang termasuk foto korban luka bakar berat, baju compang-camping dan bernoda, serta patung manusia dengan daging segar meleleh dari tubuhnya. (stu/stu)