Jika dari 15 anggota komite pemberian sanksi kepada ISIS dan al-Qaidah tidak menentang usulan ini hingga 11 Mei 2016 jam 3 sore waktu setempat, maka PBB akan memasukkan kedua kelompok itu ke dalam daftar hitam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini cara untuk mencoba memisahkan oposisi," kata diplomat itu pada Rabu (27/4).
Kelompok Jaish al-Islam, yang berarti Tentara Islam, merupakan kelompok pemberontak bersenjata utama di Suriah dan bagian dari Komite Negosiasi Tinggi, kelompok yang didirikan di Riyadh pada Desember lalu dan termasuk wakil oposisi dalam perundingan damai dengan pemerintah Suriah yang didukung PBB.
Komite Negosiasi Tinggi didukung oleh sejumlah negara Barat dan negara-negara besar Arab.
Sementara, kelompok Ahrar al-Sham menarik diri dari perundingan di Riyadh dan menyatakan bahwa "kelompok revolusioner" tidak menghadiri perundingan ini. Meski demikian, kelompok ini menghadiri perundingan damai di Jenewa.
Kementerian Luar Negeri Rusia telah lama menyatakan bahwa Jaish al-Islam dan Ahrar al-Sham seharusnya tidak terlibat dalam perundingan damai Suriah.
Ahrar al-Sham merupakan kelompok ultra-ortodoks Salafi dan merupakan bagian dari aliansi militer, seperti Front al-Nusra yang terafilasi dengan al-Qaidah. Front al-Nusra sendiri tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimulai sejak Februari lalu.
Pemimpin Ahrar al-Sham merupakan tokoh yang pernah berperang bersama Osama bin Laden. Tahun lalu, kelompok membantah berbagi ideologi dengan al-Qaidah atau memiliki hubungan dengan kelompok militan itu. (ama)