Hotel mayat bernama Sousou itu adalah yang terbaru dari tempat usaha serupa yang tersebar di Jepang. Mirip dengan kamar mayat, hanya saja jenazah diletakkan di dalam kamar menunggu sampai anggota keluarga menemukan tempat kremasi yang jumlahnya minim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak seperti hotel mayat lainnya yang meletakkan jenazah di kamar berpendingin es, Sousou hanya mengandalkan pendingin ruangan untuk mengawetkan jenazah.
Warga sekitar hotel itu mengaku resah dengan kehadiran Sousou. Menurut mereka, tampilan hotel itu, dengan plakar dan bendera kematian, menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.
Selain itu, aroma dari hotel terkadang tidak mengenakkan. Seorang warga, Yoko Masuzawa, 50, yang tinggal di belakang hotel mayat tersebut meminta agar pihak hotel menempatkan pipa pembuangan udara di atas permukaan agar bau tidak tercium, namun permintaan ini diabaikan.''
Hotel mayat meresahkan warga namun disyukuri keberadaannya oleh keluarga jenazah. (Reuters/Thomas Peter) |
Kendati meresahkan, namun bagi pelanggan hotel tersebut, kehadiran tempat itu sangat membantu.
"Saya kira bagus sekali jika keluarga dan kenalan bisa datang dan melayat sebelum jenazah dikremasi," kata Hirokazu Hosaka, 69, yang menitipkan jenazah ibunya di Sousou.
Angka kematian di Jepang timpang dengan tingkat kelahiran, memicu kekhawatiran krisis demografi dalam beberapa tahun ke depan.
Angka kematian di Jepang diperkirakan mencapai 1,7 juta orang per tahun pada 2040, berdasarkan perkiraan pemerintah. Jika perkiraan ini akurat, Jepang dalam dua dekade akan memiliki warga 20 juta orang lebih sedikit dibanding saat ini. (ama)
Hotel mayat meresahkan warga namun disyukuri keberadaannya oleh keluarga jenazah. (Reuters/Thomas Peter)