Palestina menyambut baik usulan tersebut, namun Israel mengaku khawatir konferensi yang rencananya akan digelar oleh Perancis pada musim gugur mendatang akan menjadi upaya untuk mendikte sejumlah poin dalam kesepakatan damai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tahu bahwa Netanyahu tidak setuju (dengan usulan Perancis)," kata Ayrault kepada wartawan, usai bertemu dengan Netanyahu di Yerusalem dan Presiden Palestina, Mahmoud Abbas di Tepi Barat yang diduduki.
Ayrault menyatakan bahwa Perancis akan terus mengejar inisiatif tersebut, yang bertujuan agar Palestina dan Israel kembali berunding langsung, dengan bantuan intervensi internasional.
"Hal ini sangat jelas bagi kita, dan saya menyatakan hari ini, baik kepada sang perdana menteri maupun Presiden Abbas, bahwa kita tidak bisa menjadi penengah kedua pihak," katanya di bandara Ben-Gurion di Tel Aviv.
"Hanya mereka yang dapat melakukan negosiasi langsung untuk mencapai solusi. Tapi karena hal ini mandek, intervensi eksternal diperlukan untuk memberikan momentum baru," ujar Ayrault.
Pertemuan internasional dengan para menteri, sementara ini dijadwalkan digelar pada 30 Mei di Paris, dan rencananya akan dihadiri oleh perwakilan dari Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa dan PBB, Liga Arab, Dewan Keamanan PBB dan sekitar 20 negara, tanpa partisipasi Israel atau Palestina.
Meski keberatan dengan inisiatif Perancis, Netanyahu menyatakan tidak akan memboikot inisiatif Perancis itu. (ama)