Meski hidup di pengungsian serba terbatas, setidaknya Ahmad dan keluarganya tidak perlu mencemaskan serangan udara dan peperangan yang terus mengoyak Aleppo. Berbeda dengan sebagian warga Suriah, ia tak ingin pindah ke Eropa. Pria 50 tahun ini memilih berdiam di penampungan pengungsi, mencari nafkah sebagai sebagai tukang listrik di Kamp Nizip 2, Turki, dan berharap suatu hari nanti kembali ke kampung halamannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumah model kontainer ini hanya ada di enam penampungan, selain itu para pengungsi ditempatkan dalam tenda-tenda seperti di kamp Nizip 1. Lengkapnya fasilitas, membuat Nizip 2 menjadi kamp yang kerap disambangi para tamu negara, seperti Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang berkunjung pada April 2016 lalu.
Kondisi pengungsi Suriah di Kamp Nizip 2, Gaziantep, Turki. (CNN Indonesia/Ardiana W. Hapsari) |
Perkara pengungsi menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi Turki yang berbagi perbatasan dengan Suriah sepanjang 822 kilometer. Pengungsi mulai berdatangan sejak awal konflik di Suriah pecah pada 2011 dan jumlahnya terus bertambah seiring dengan meningkatnya eskalasi perang sipil dan serangan ISIS.
Data yang dirilis UNHCR menyebutkan Turki sebagai negara yang menampung pengungsi Suriah dalam jumlah paling besar. AFAD menyatakan dari 2,75 juta pengungsi Suriah yang berada di Turki, sekitar 270.000 orang menghuni kamp.
Pemerintah Turki memasukkan para pengungsi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang mampu secara finansial dan kelompok yang tidak mampu. Kelompok yang mampu dianggap bisa hidup secara mandiri dengan menyewa rumah atau apartemen, sedangkan mereka yang tidak mampu ditampung dalam 25 kamp yang tersebar di berbagai wilayah.
Pemerintah Turki sudah mengeluarkan dana US$10 miliar untuk menangani para pengungsi Suriah, sedangkan dana dari bantuan internasional hanya US$461 juta.
"Dalam 3-4 tahun ke depan, Turki akan membutuhkan 20 miliar dollar Amerika untuk penanganan pengungsi, terutama untuk pemenuhan kebutuhan akomodasi, air bersih, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur," kata Hamza Tasdelen, Wakil Presiden AFAD, kepada CNN Indonesia.
Kondisi pengungsi Suriah di Kamp Nizip 2, Gaziantep, Turki.(CNN Indonesia/Ardiana W. Hapsari) |
"Turki memerlukan sumber daya yang bisa diandalkan dan perlu mencari mekanisme baru untuk membiayai pengungsi, baik berupa bantuan kemanusiaan maupun dari sisi pembangunan," kata Levant Murat Burhan, wakil menteri luar negeri Turki.
KTT ini diharapkan menjadi titik tolak bagi dunia internasional untuk mengambil langkah mengatasi masalah-masalah kemanusiaan, termasuk isu pengungsi Suriah.
Resolusi yang dihasilkan akan dibawa ke di Sidang Umum PBB mendatang untuk pembahasan lebih luas. Namun tanpa langkah konkret untuk menghentikan peperangan, arus pengungsi tidak akan pernah bisa surut.
Tanpa perdamaian di Suriah, Ahmad kembali harus memendam angan-angan untuk pulang ke tanah airnya, "Tidak ada yang bisa saya lakukan di pengungsian ini untuk mengubah kondisi di Suriah, saya hanya bisa berharap. Anda bertanya apa yang paling saya rindukan dari Suriah? Semuanya. Saya merindukan segala hal di Suriah." (den)
Kondisi pengungsi Suriah di Kamp Nizip 2, Gaziantep, Turki. (CNN Indonesia/Ardiana W. Hapsari)
Kondisi pengungsi Suriah di Kamp Nizip 2, Gaziantep, Turki.(CNN Indonesia/Ardiana W. Hapsari)