"Kami juga menekankan kembali komitmen kami memperkuat kerja sama REDD+. Kami mendorong agar potensi kebakaran hutan dan emisi gas rumah kaca dapat berkurang dengan adanya kerja sama yang baik dalam konteks REDD+," ujar Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno LP Marsudi, setelah mengadakan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Norwegia, Borge Brende, Jakarta, Senin (30/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui program ini, Norwegia akan membeli karbon yang dihasilkan dari penanaman pohon oleh Indonesia. Pada 2010 lalu, Norwegia sudah memberikan US$1 miliar kepada Indonesia untuk program ini.
Arrmanatha mengatakan, dalam penguatan komitmen kali ini, angka yang diberikan oleh Norwegia juga tinggi. Namun hingga kini, belum diketahui pasti berapa jumlahnya.
Selain mengenai lingkungan, kedua Menlu juga membahas dua area kerja sama lainnya, yaitu perdagangan dan investasi serta maritim dan perikanan.
"Pada perdagangan dan investasi, ada peningkatan dalam nilai perdagangan yang hampir mencapai US$300 juta pada 2015, dan masih ada ruang untuk mengembangkan perdagangan bilateral," ucap Retno.
Untuk mengisi ruang tersebut, Retno mendorong agar lebih banyak investasi Norwegia yang datang ke Indonesia, termasuk proyek maritim dan infrastruktur di Indonesia.
Pada sektor maritim dan perikanan, kedua negara berkomitmen memperkuat kerja sama, termasuk dalam mengatasi pemancingan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak berizin atau IUU Fishing serta pembangunan kapasitas dalam perikanan dan budidaya ikan.
Di samping isu bilateral, Retno dan Brende juga membahas masalah kawasan dan global. Retno menghargai Norwegia yang ingin memperkuat kerja sama dengan ASEAN.
"Kami juga membahas situasi di Timur Tengah dan kami sepakat bahwa perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah sangat penting bagi perdamaian dan stabilitas global," tutur Retno. (den)