Diberitakan Reuters, Kamis (2/6), dalam pernyataannya jelang Ramadan pekan depan pemerintah Beijing mengatakan bahwa tidak ada diskriminasi di Xinjiang. China, ujar pernyataan itu, mengaku menghargai ibadah umat Islam di bulan Ramadan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Komentar pemerintah China ini dibantah oleh kelompok HAM dan organisasi Uighur di pengasingan. Mereka mengatakan masalah terbesar di Xinjiang adalah kendali pemerintah dalam kebudayaan Uighur dan Islam, yang memicu ketegangan, seperti larangan memakai simbol keagamaan seperti jilbab dan memanjang jenggot.
Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uighur Dunia, kelompok Uighur di pengasingan terbesar, mengatakan dalam emailnya bahwa Amerika Serikat punya tanggung jawab mendesak China menghargai keyakinan beragama Uighur dalam pertemuan bilateral di Beijing yang dimulai Senin mendatang.
"Kebohongan tidak akan bisa menutupi kebenaran," kata Raxit.
Pernyataan Shoket Imin, anggota Partai Komunis China di Xinjiang seakan menegaskan tanggapan Raxit. Kepada wartawan, Imin mengatakan anak-anak di bawah usia 18 tahun diimbau tidak datang ke masjid.
Imin juga mengatakan bahwa agama tidak boleh menghalangi pendidikan wajib dan aktivitas negara dalam mendidik, serta "siswa seharusnya tidak berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan".
Ada sekitar 20 juta Muslim di seluruh China, hanya sebagian kecil yang merupakan warga Uighur. (den)