Juru bicara Departemen Taman Nasional Thailand, Adisorn Nuchdamron, pada Jumat (4/6) menyatakan bahwa 22 orang tersebut didakwa atas kepemilikan dan perdagangan satwa liar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Temuan ini kian menguatkan dugaan kuil itu memperdagangkan satwa liar.
"Kami menyita semua kamera CCTV di kuil ini agar polisi dapat menemukan bukti," kata Adisorn, dikutip dari Reuters.
Kuil yang terletak di provinsi Kanchanaburi, sebelah barat ibu kota Bangkok, terkenal dengan atraksi puluhan harimau yang berkeliaran bebas, menarik banyak wisatawan domestik dan internasional selama lebih dari dua dekade. Dengan membayar 600 baht, atau setara dengan Rp228 ribu, pengunjung dapat berfoto dengan harimau.
Namun belakangan muncul laporan dugaan perdagangan dan penyiksaan harimau. Kucing-kucing besar itu dituding telah dibius agar bisa berfoto dengan para turis. Selain itu, berbagai insiden harimau mengamuk terjadi, mengancam keselamatan wisatawan.
Pihak kuil menyangkal tuduhan ini.
Candi ini resmi dibuka pada 1994 dan berdekatan dengan lokasi habitat harimau liar. Kuil ini menerima anak harimau yang ditemukan oleh penduduk desa pada 1999. Warga desa menduga sang anak harimau kehilangan ibunya yang tewas akibar perburuan ilegal.
Meski anak harimau itu tewas tak lama setelah dirawat di kuil, warga desa kerap membawa anak harimau ke kuil tersebut.
Sejumlah upaya untuk menutup kuil ini telah dilakukan sebelumnya, namun selalu dihalangi oleh para biksu.
Thailand merupakan salah satu negara yang tengah berupaya mengatasi perdagangan satwa liar ilegal, termasuk gading gajah.
Departemen Satwa Liar Thailand bekerja keras untuk menangkapi lebih dari 100 harimau yang berkeliaran di kuil itu sejak Senin (30/5). Sebanyak 137 harimau ditemukan di dalam kuil dan 119 harimau telah dipindahkan.
April lalu, World Wildlife Fund melaporkan bahwa jumlah harimau liar di dunia mencapai sekitar 3.890 ekor. Lebih dari 100 harimau liar di antaranya berada di Thailand. (ama)