Proposal reformasi pertama kali diumumkan oleh Wakil Putra Mahkota Mohammed bin Salman pada April lalu, berisi pemaparan restrukturisasi ekonomi Saudi untuk menghilangkan ketergantungan terhadap sektor minyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keuangan Arab Saudi saat ini bergantung sebagian besar dari pemasukan minyak dan kinerja ekonominya mulai disusul oleh pengeluaran pemerintah. Namun harga minyak anjlok sejak tahun 2014, menyebabkan penurunan pemasukan dan membuat pertumbuhan ekonomi Saudi berisiko.
Reformasi Saudi nantinya akan meliputi pemangkasan subsidi, peningkatan pajak, penjualan aset negara, efisiensi pemerintah dan upaya meningkatkan investasi swasta. Bulan lalu, IMF mengatakan rencana itu sangat berani dan sulit tercapai.
Menurut sumber Reuters, rincian rencana itu akan diumumkan dalam konferensi pers harian dengan kementerian pemerintah pada Senin malam.
Salah satu bagian dari Visi 2030 adalah privatisasi sebagian saham perusahaan minyak Saudi Aramco dan transformasi Dana Investasi Publik pemerintah menjadi salah satu dana kekayaan asing terbesar.
Pemerintah Riyadh telah memangkas pengeluaran dan mencoba meningkatkan sumber pemasukan baru seiring defisit anggaran yang mencapai US$98 miliar di tahun 2015.
IMF memprediksi defisit Saudi masih akan sangat besar tahun ini, sekitar 14 persen dari GDP, dibanding 16 persen tahun lalu. (ama)