Namun mantan istrinya, Sitora Yusufiy, sudah melihat gelagat Mateen memiliki gangguan kejiwaan karena sering menumpahkan amarah melalui kekerasan sejak dulu.
Dalam jumpa pers yang disiarkan CNN, Yusufiy menuturkan kisah kasihnya bersama Mateen yang berakhir dengan perceraian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak saat itu, Mateen sering kali menganiaya Yusufiy secara fisik. Yusufiy juga dilarang berbicara dengan keluarganya.
Hingga akhirnya, keluarga Yusufiy turun tangan langsung untuk menyelamatkannya. "[Keluarga saya] harus menarik saya dari tangannya dan mencari penerbangan darurat. Saya membuat laporan kepolisian," tuturnya.
Mereka akhirnya bercerai pada 2011.
Asisten Agen Khusus Badan Investigasi Federal AS (FBI), Ronald Hopper, juga mengatakan bahwa pihaknya sudah mengenal Mateen.
FBI pernah mewawancarainya dua kali, pada 2013 dan 2014 setelah ia mengekspresikan simpati kepada seorang pelaku pengeboman.
"Wawancara itu ternyata tidak mengarah kepada kesimpulan apa pun, jadi tidak ada yang bisa membuat investigasi terus dilakukan," ujar Hopper.
Maka, ketika Mateen mendatangi kelab Pulse pada Minggu sekitar pukul 02.00 dan mulai melepas tembakan, ia tidak sedang di bawah penyelidikan dan tidak diawasi. Pria yang sejak 2007 bekerja sebagai sekuriti di perusahaan G4S itu pun bebas membeli senjata secara legal, sekitar dua pekan sebelum insiden penembakan.
Mateen akhirnya tewas di tangan polisi sekitar tiga jam setelah aparat menyerbu bangunan dengan kendaraan bersenjata dan granat kejut. (stu)