Aksi penembakan itu telah menewaskan 49 orang dan melukai puluhan orang lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, niatnya tidak hanya ditentang oleh sejumlah negara muslim di Afrika dan Arab Saudi, namun juga Rusia dan China.
PBB menyatakan kalau sampai saat ini masih ada 74 negara yang menolak keberadaan kaum LGBT.
Pada 2014, Ban menyatakan kalau PBB mengizinkan karyawannya untuk menikah dengan sesama jenis. Setelah menikah, mereka juga masih mendapatkan hak-hak pekerjanya.
Negara-negara tersebut sempat memprotes keputusan PBB yang seakan mendukung perkembangan kaum LGBT.
Puncaknya terjadi pada Februari, ketika 51 negara muslim menolak kehadiran 11 komunitas LGBT saat pertemuan yang sedang membahas penanggulangan wabah AIDS.
Tindakan tersebut langsung mendapat kritik keras dari AS, Kanada dan sejumlah negara Eropa.
Salah satu pemilik Pulse, kelab malam gay yang menjadi lokasi penembakan massal di Orlando, mengaku mendirikan kelab itu untuk menghormati saudaranya yang meninggal karena AIDS, serta untuk mendukung komunitas LGBT.
Barbara Poma membuka Pulse pada 2004 bersama dengan rekannya, Ron Legler. Kakak Poma meninggal karena AIDS pada 1991.
Tempat hiburan itu juga ikut mempromosikan hak-hak komunitas gay dengan berbagai acara.
Pelanggan tetap Pulse dan komunitas gay Orlando sedang bersenang-senang pada Sabtu malam. Omar Mateen masuk dengan pistol dan senapan ke Pulse pada Minggu (12/6) sekitar pukul 02.00 waktu setempat.
Ia lalu melepas tembakan, menewaskan 50 orang dan melukai 53 lainnya.
Pulse merupakan satu dari lima bar gay di Orlando.
"Ini adalah pekan di mana saya akan ke pemakaman sepanjang minggu. Saya bahkan tak tahu siapa yang ada di sana, tapi saya tahu saya akan mengenali mereka," kata Raymond Michael Sharpe, 55, seorang barista di bar gay lain.
Ia mengatakan bahwa Poma masih hidup, begitu juga manajer Pulse, Cindy Barbalock.