Tokoh-tokoh politik Inggris berada di garis depan untuk kampanye dua kubu. Para petinggi Inggris adu argumen, untung-rugi bertahan atau keluar dari UE. Berikut adalah para penggawa dari kubu "in" atau "out" pada Brexit:
Kubu pendukung keanggotaan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Apa yang Perlu Diketahui soal Brexit? |
Menteri Dalam Negeri Theresa May, beralasan sama dengan Osborne. Menurut May, bergabung dengan UE adalah kepentingan nasional Inggris karena menyangkut perlindungan dari terorisme, perdagangan bebas dengan Eropa serta akses pasar dunia.
Menteri Dalam Negeri Theresa May mengatakan keanggotaan di UE menguntungkan Inggris. (Reuters/Phil Noble) |
Kubu penentang keanggotaan
Mantan Wali Kota Inggris Boris Johnson merupakan tokoh utama kampanye keluar dari UE. Menurut Johnson ini adalah saatnya warga Inggris mengatur kembali hubungan dengan Eropa. Johnson mengatakan Mei lalu, UE ingin membentuk negara besar Eropa, seperti halnya pemimpin Nazi Hitler di Jerman di era Perang Dunia II.
Menteri Kehakiman Michael Gove, sekutu dekat David Cameron dan George Osborne, menyatakan mendukung keluarnya Inggris dari UE. Menurut dia, keluar dari UE akan membuat Inggris "lebih bebas, lebih adil dan lebih baik".
Mantan Wali Kota London, Boris Johnson, mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa. (Matt Frost/ITV/Reuters) |
Ketua partai sayap kanan UKIP, Nigel Farage, yang mengatakan sudah saatnya Inggris mengatur sendiri negaranya tanpa campur tangan UE. Keluar dari UE, kata Farage, akan meningkatkan demokrasi di Inggris. Menurut Farage, UE diatur oleh sekumpulan orang tua di Brussels yang tidak dikenal orang Inggris.
Pemimpin UKIP, Nigel Farage, mengatakan Uni Eropa telah menghambat Inggris. (Reuters/Eddie Keogh) |
Menteri Dalam Negeri Theresa May mengatakan keanggotaan di UE menguntungkan Inggris. (Reuters/Phil Noble)
Mantan Wali Kota London, Boris Johnson, mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa. (Matt Frost/ITV/Reuters)
Pemimpin UKIP, Nigel Farage, mengatakan Uni Eropa telah menghambat Inggris. (Reuters/Eddie Keogh)