Diberitakan The Independent, sebuah toko daring di Amerika Serikat bahkan telah menjual lebih dari 30 ribu pucuk AR-15 dalam sepekan usai penembakan di Orlando.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilik Hunter's Warehouse, Tom Engle, mengatakan bahwa peningkatan penjualan bukan karena adanya penembakan, namun karena perdebatan pemerintah soal larangan penjualan senjata itu ke publik.
"Saat masyarakat terancam kehilangan hak mereka untuk membeli senjata tertentu, maka mereka akan mencari dan ingin memilikinya," kata Engle.
Pada tahun 1994 senapan serbu seperti AR-15 ini sempat dilarang penjualannya di AS. Namun pada tahun 2004, larangan ini kedaluwarsa dan tidak diperpanjang berkat lobi ketat NRA, AR-15 kembali beredar di pasaran.
Pemilik senjata Jon Stokes dari Texas dalam tulisannya di Vox mengaku memilih AR-15 karena memiliki banyak sekali aksesoris, bisa dimodifikasi dan bisa dipadupadankan dengan senjata lainnya.
"Polisi dan sipil membeli AR-15 karena satu senapan ini bisa digunakan untuk olahraga, berburu dan dalam skenario kekerasan, oleh seorang amatir. Dalam hal ini, AR-15 pada dasarnya adalah Lego raksasa untuk orang dewasa," kata Stokes. (stu)