Hasil suara sementara 13 distrik dari 382 distrik di Inggris, sebanyak 52,4 persen suara memilih Inggris mengakhiri keanggotaannya di Uni Eropa yang sudah berlangsung selama 43 tahun. Sementara, sebanyak 47,6 persen suara lainnya menginginkan Inggris tetap di blok 28 negara itu, menurut laporan Reuters.
Lihat juga:Apa yang Perlu Diketahui soal Brexit? |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Farage menyatakan prediksi itu berdasarkan "apa yang saya dengar dari beberapa teman saya di pasar keuangan yang telah melakukan sejumlah jajak pendapat besar." Menteri Luar Negeri untuk Irlandia Utara, Theresa Villiers, yang juga berkampanye untuk Brexit, menyatakan bahwa nalurinya berkata kubu 'Tetap' akan menang.
Meski terlihat pesimistis, Farage menyatakan, "Saya berharap saya salah. Saya harap saya membodohi diri sendiri dengan percaya hal ini. Benar atau salah, jika kita tetap menjadi bagian dari serikat yang sudah ditakdirkan hancur ini maka selesai semua."
Komentar Farage dan berbagai jajak pendapat yang menunjukkan kubu 'Tetap' akan menang telah menjadikan mata uang pound sterling menguat ke level tertinggi tahun ini.
Sementara itu, Perdana Menteri David Cameron mendesak warga Inggris untuk memilih tetap berada di Uni Eropa, dan terus memperingatkan bahwa keluar dari Uni Eropa berisiko besar terhadap sektor perdagangan dan investasi, kemungkinan terjadi resesi, melemahkan pound sterling dan membuat harga bahan pokok dan biaya liburan menjadi lebih mahal.
"Terima kasih untuk semua orang yang memilih Inggris tetap kuat, lebih aman dan lebih baik di Eropa - dan ribuan penggiat kampanye 'Tetap' di seluruh Inggris," kata Cameron di akun Facebook miliknya.
Jika hasil akhir referendum menunjukkan warga Inggris memilih tetap di Uni Eropa, Inggris akan diberikan status khusus untuk membebaskan diri dari setiap integrasi politik Uni Eropa lebih lanjut.
Meski demikian, para pemimpin Eropa masih harus mengatasi sentimen anti-Uni Eropa yang akan menguat di penjuru Benua Biru itu usai referendum Brexit. (ama)