Dari hasil awal investigasi yang masih berjalan, Presiden Turki Tayyip Erdogan pada Sabtu (2/7) menyatakan bahwa dua militan ISIS asal Rusia teridentifikasi sebagai pelaku pengeboman yang menyebabkan ratusan orang terluka itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Otoritas Turki sebelumnya telah menyatakan mereka memiliki bukti kuat yang menunjukkan bahwa para pemimpin ISIS terlibat dalam perencanaan serangan di Bandara Ataturk.
"[Serangan itu] direncanakan dengan sangat baik dengan keterlibatan dari kepemimpinan ISIS," ujar seorang sumber pemerintahan Turki kepada CNN, Kamis (30/6).
Sebelumnya, otoritas Turki menyebut pelaku pengebom bunuh diri berasal dari Turki, Uzbekistan, dan Rusia yang menyewa apartemen di distrik Fatih, Istanbul, di mana salah satu pelaku meninggalkan paspornya.
Menurut keterangan pihak berwenang, serangan terjadi ketika para pelaku tiba di bandara dengan taksi dan melepaskan tembakan di dekat pos keamanan di pintu masuk pada Selasa (28/6) sekitar pukul 21.50 malam. Belum sempat polisi melumpuhkan mereka, para penyerang memasuki bandara dan melepaskan tembakan.
[Gambas:Video CNN]
Saksi mata menyatakan seorang penyerang melepaskan tembakan secara acak kepada siapa pun yang berada di depannya. Para penumpang pun panik dan berlarian mencari perlindungan.
Tak lama kemudian, tiga penyerang meledakkan diri dengan bom bunuh diri di sekitar gerbang kedatangan sebelum polisi sempat menghentikan aksi mereka.
Bom di bandara Ataturk, Istanbul merupakan serangan terbaru dalam rangkaian teror bom di Turki sepanjang tahun ini. Tercatat, setidaknya delapan serangan bom mengguncang Turki sepanjang 2016, sebagian besar bom mobil yang menargetkan fasilitas kepolisian.
Dua dari delapan serangan bom di Turki tahun ini diduga dilakukan oleh militan ISIS, sementara enam serangan lainnya diduga didalangi oleh Elang Pembebasan Kurdistan (TAK), sayap bersenjata kelompok pemberontak Partai Pekerja Kurdistan (PKK). (ama)