Pekan lalu, upaya pencarian pesawat yang hilang beserta 239 penumpang dan awak itu ditangguhkan oleh Malaysia, China dan Australia. Dalam pernyataan bersama, ketiga negara itu menjelaskan penangguhan upaya pencarian dikarenakan pesawat tak juga ditemukan di perkiraan lokasi jatuhnya pesawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menentang keputusan mereka. Kami tidak mengakuinya sama sekali. Keputusan itu tidak memiliki alasan," kata Boa Lanfang, 65, kepada Reuters, Jumat (29/7). Putra, menantun dan cucu laki-laki Boa berada dalam pesawat nahas tersebut.
Sejumlah anggota keluarga korban juga membawa spanduk bertuliskan, "Tiga negara memiliki kewajiban terhadap dunia untuk memenuhi janji mereka".
Sejak pesawat itu menghilang dua tahun lalu, anggota keluarga korban, yang sebagian besar berasal dari China, mendesak agar pihak berwenang mampu memberikan kejelasan soal nasib pesawat yang hilang itu.
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri China belum meluncurkan komentar soal tuntutan keluarga korban ini.
Banyak spekulasi yang beredar terkait insiden MH370, terutama soal apakah sang pilot masih mengendalikan pesawat ketika menghilang dari radar atau dugaan pesawat ini dibajak. Para penyidik juga menyakini bahwa seseorang sengaja mematikan transponder pesawat sebelum mengalihkannya ribuan kilometer dari rute semula.
Penyidik Malaysia menyatakan pada 2015 bahwa tidak ada hal yang mencurigakan di dalam catatan keuangan, medis maupun kepribadian sang pilot dan para awak.
Beberapa potongan reruntuhan pesawat terdampar di sejumlah pantai di Afrika dan telah diidentifikasi positif berasal dari MH370. Meski demikian, puing-puing tersebut tak juga mampu memberi penjelasan soal hilangnya pesawat ini. (ama/stu)