Kelompok pemerhati perang Suriah, Syrian Observatory for Human Rights melaporkan bahwa pertempuran di Aleppo antara pemberontak yang menguasai wilayah timur dan pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad yang mengendalikan wilayah barat semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Ratusan warga tewas akibat pertempuran ini, akses listrik, air dan kebutuhan harian lainnya juga terputus.
Reuters melaporkan bahwa kelompok pemberontak juga menggempur markas militer di sebuah bekas pabrik semen di barat daya kota itu, berdekatan dengan jalur menuju wilayah yang dikuasai pemberontak di sebelah timur. Serangan ini memecahkan pengepungan pasukan pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PBB menilai, agar bantuan kemanusiaan dapat menjangkau daerah yang dikepung pemerintah, diperlukan gencatan senjata setidaknya selama 48 jam.
Aleppo menjadi salah satu benteng pertahanan kelompok pemberontakan untuk memerangi pasukan yang setia kpeada Assad, yang didukung oleh Iran, serangan udara dari Rusia dan militan Hizbullah dari Libanon.
Belakangan ini, kelompok pemberontak Jabhat Fateh al-Sham, yang sebelumnya dikenal dengan nama Front al-Nusra berhasil mengusai sejumlah wilayah di Aleppo. Kelompok ini berganti nama setelah memutuskan afiliasinya dengan kelompok militan Al-Qaidah bulan lalu.
Sebagai upaya menghentikan pertempuran, sebanyak 15 dari 35 dokter terakhir di Aleppo menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama dengan permohonan yang mendesak agar ia melakukan intervensi dengan menghentikan serangan udara yang menargetkan berbagai rumah sakit di kota yang terkepung oleh angkatan udara Suriah dan Rusia itu. (ama)