Maida bersama lebih dari 200 teman satu sekolahnya di Chibok, diculik oleh Boko Haram pada 2014 lalu. Ahad lalu, Boko Haram mempublikasikan video yang memperlihatkan Maida bersama sekitar 50 orang gadis lain.
"Melihat anak saya berdiri di samping teroris dengan amunisi melingkar di lehernya tidak mudah bagi seorang ibu," kata Esther kepada CNN. "Tapi saya juga berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Mereka bilang sebagian besar anak perempuan [Chibok] tewas tapi anak saya masih hidup."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Video CNN]
"Pemerintah tidak melakukan apa-apa," katanya. "Ketika mereka menyerang Chibok, para gadis yang kabur berhasil berkat usaha mereka sendiri…dengan melompat dari truk. Beberapa gadis bahkan mengalami patah kaki.”
Seperti dilansir CNN, Ia juga menceritakan trauma mendalam yang dilalui para orangtua.
"Tekanan darah saya naik, dan tidak kunjung turun," ungkapnya, mengungkapkan masalah kesehatan yang ia derita sejak anaknya diculik. Sedikitnya 16 orang tua korban meninggal selama anaknya disandera.
Namun Eshter tetap berpikir positif. "Saya sangat senang. Karena selama anak saya masih hidup, itu berarti kami akan bertemu dengannya suatu hari nanti," ujarnya.
Sementara itu, pemerintah Nigeria mengatakan mereka telah mengontak Boko Haram dan mengusahakan pembebasan para gadis Chibok.
Dari 276 gadis yang diculik dua tahun lalu, diperkirakan 200 di antaranya masih hidup. Mereka diyakini dipaksa pindah agama ke Islam atau diberikan kepada para komandan Boko Haram untuk dijadikan selir. (stu/stu)