Diberitakan Al-Arabiya, Rabu (17/8), lembaga Pusat Pembela HAM di Kurdistan mengutip para keluarga yang mengaku melihat bekas-bekas penyiksaan di tubuh tereksekusi mati. Seorang ibu mengaku mayat putranya mengalami patah tulang tangan dan kaki, diduga akibat disiksa sebelum dihukum gantung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para aktivis mengatakan, pasukan keamanan juga memperingatkan keluarga agar tidak mengadakan upacara pemakaman bagi mereka yang digantung.
Kantor Berita Aktivis HAM, HRANA, melaporkan sebelum eksekusi para aktivis Sunni, aparat memborgol, menutup mata dan menyerang mereka lalu menempatkan mereka di sel seorang diri.
Eksekusi 25 aktivis Sunni, termasuk da'i muda Shahram Ahmadi, menuai kecaman internasional terhadap pemerintah Teheran. PBB, Uni Eropa, Amerika Serikat dan organisasi HAM mengecam eksekusi dan pengadilan mereka yang tidak transparan, pengakuan disampaikan terpaksa karena disiksa dan tidak memberi kesempatan para terdakwa membela diri.
Iran menuding para tereksekusi mati telah melakukan berbagai pembunuhan dan mengancam keamanan nasional.
Namun dalam surat yang berhasil mereka kirimkan ke organisasi HAM dari penjara, kebanyakan terdakwa membantah telah melakukan aksi kriminal bersenjata dan mengaku mereka ditangkap hanya karena menyebarkan pengajaran agama Islam, dan mereka juga membantah terlibat dalam gerakan ekstremis. (den)