Dugaan ini disampaikan oleh beberapa pembelot lainnya setelah mantan Wakil Duta Besar Korut untuk Inggris tersebut tiba di Seoul, Korsel, bersama keluarganya pada Rabu (17/8).
Layaknya 27 ribu warga Korut lainnya yang membelot, Thae juga sudah merasa gerah dengan kemiskinan dan tertutupnya pemerintahan Pyongyang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akhirnya, ia dipekerjakan di lembaga think-thank Institut Strategi Keamanan Nasional (INSS) yang dikelola oleh badan intelijen Korsel (NIS).
"Untuk hidup di sini, semua orang membutuhkan pekerjaan, dan pemerintah Korsel menawarkan pekerjaan kepada orang-orang. Saya diberi kesempatan untuk bekerja di INSS," ujar Kim seperti dikutip Reuters.
Choi disebut-sebut sebagai pembelot dari kalangan tertinggi dalam lingkup militer Korut. Ia pun dipekerjakan sebagai peneliti di INSS dari 1997-2012 sebelum akhirnya menjadi Kepala Asosiasi Pembelot Korut.
"[Pemerintah] tidak bisa membayar dia [Thae] begitu saja, jadi kemungkinan besar ia diberikan pekerjaan di institut riset," kata Choi merujuk pada INSS.
NIS sendiri hingga kini masih bungkam terkait pembelotan Thae.
Banyak dari mereka berusaha untuk tidak menjadi sorotan publik. Namun, bagi orang-orang yang sudah terlanjur terkenal seperti Thae, Choi memperkirakan, mantan diplomat itu akan berusaha hidup tanpa sorotan setelahnya.
"Dia tidak akan menginginkan kehidupan yang disorot publik karena ia harus memikirkan keamanan keluarganya yang dibawa ke sini. Dengan bungkam, ia orang sekitarnya akan selamat jadi saya pikir ia tidak akan melakukan aktivitas publik," katanya.
Senada dengan Choi, Kim sang mantan pekerja asuransi juga sempat menyewa pengawal bersenjata yang menjaganya 24 jam.
Sementara itu, pembelot biasa lainnya dari Korut harus melalui jalur berbahaya, seperti berenang membelah perairan menuju China, untuk kemudian meminta suaka ke Korsel. (ama)