"Kami menolak penutup sepenuhnya - tidak hanya burqa tapi juga jenis penutup wajah yang hanya memperlihatkan mata...[burqa] tidak ada punya tempat di masyarakat kami," kata Maiziere dikutip Reuters, Kamis (18/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memperlihatkan wajah penting bagi komunikasi, persatuan dan kesatuan sosial, itulah alasan mengapa kami meminta semua orang memperlihatkan wajah mereka. Kami ingin memperkenalkan hukum agar semua orang memperlihat wajah, artinya mereka yang melanggarnya akan ada konsekuensi," lanjut Maiziere.
Larangan burqa pertama kali digagas oleh partai Merkel, Serikat Kristen Demokrat Jerman, CDU. Namun gagasan ini harus terlebih dulu diadopsi pemerintah sebelum menjadi undang-undang.
Tidak semua yang berada di kubu Merkel mendukungnya. Penentangnya, Partai Sosial Demokrat, SPD, dari koalisi Merkel mengatakan larangan penggunaan burqa ini adalah bukti dari xenofobia yang semakin kental di Jerman. Selain itu, hal ini malah justru mengancam keamanan karena menimbulkan keresahan.
Perkara larangan burqa tengah mengemuka di Eropa. Tiga kota Mediterania di Perancis belakangan melarang penggunaan bikin Muslimah yang menutup seluruh badan dan kepala, atau yang biasa disebut burkini.
Perancis, dengan warga minoritas Muslim terbesar di Eropa, sekitar 5 juta, telah melarang penggunaan cadar dan burqa sejak tahun 2010. (den)