Letnal Polisi Kolonel Winyu Tiamraj kepada Reuters pada Rabu (24/8) mengatakan ledakan terjadi dua kali jelang tengah malam. Ledakan pertama terjadi di tempat parkir Southern Hotel, tidak ada korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peristiwa ini dikhawatirkan mengganggu pariwisata yang merupakan satu dari sedikit sektor pendongkrak ekonomi yang tengah berkembang di Thailand. Pariwisata menyumbang 10 persen perekonomian negara itu, dan kini terancam merosok setelah pemerintah junta berkuasa setelah kudeta dua tahun lalu.
Seperti ledakan sebelumnya, belum ada kelompok yang bertanggung jawab. Namun dalam ledakan kali ini, para pengamat menduga kelompok separatis selatan berada di di baliknya.
Sejak tahun 2004, peperangan antara tentara Thailand dan pasukan pemberontak telah menewaskan lebih dari 6.500 orang di provinsi Yala, Pattani dan Narathiwat.
Ketiga provinsi dengan penduduk mayoritas Muslim dan berbatasan dengan Malaysia itu terang-terangan menolak referendum konsitusi junta awal bulan ini.
Ledakan kali ini terjadi selang setahun setelah serangan besar di sebuah altar Hindu di Bangkok, menewaskan 20 orang dan melukai 120 lainnya. Pelakunya adalah dua warga etnis Uighur asal China. (den)