Selama setahun, Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) PBB fokus menyelidiki sembilan serangan di tujuh wilayah di Suriah, di mana senjata kimia digunakan dalam pertempuran.
Meski begitu, lembaga itu belum bisa memberi kesimpulan atas enam kasus lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suriah setuju untuk menghancurkan senjata kimianya pada 2013 di bawah kesepakatan yang digagas oleh Rusia dan Amerika Serikat. Dewan Keamanan PBB mendukung kesepakatan itu dengan mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa dalam hal ketidakpatuhan, "termasuk pengiriman senjata kimia, atau penggunaan senjata kimia oleh siapa pun" di Suriah, akan berakibat diterapkannya tindakan yang tercantum di Bab 7 Piagam PBB.
Meski begitu, DK diduga tetap akan menghadapi tantangan untuk menerapkan resolusi semacam itu. Rusia yang merupakan sekutu dekat Suriah, dan China, yang menjadi dua anggota tetap DK, sebelumnya sudah melindungi pemerintah Suriah dengan memveto beberapa resolusi, termasuk gagasan untuk merujuk situasi Suriah ke Mahkamah Pidana Internasional.
"Penggunaan senjata ini adalah kekejian dan kami tegas mengutuk orang-orang yang menggunakannya," kata Duta Besar Inggris untuk PBB Matius Rycroft pada Senin lalu. "Dewan [Keamanan] harus siap menunjukkan respons kuat untuk laporan ini."
Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Michele Sison, mengatakan pada Selasa menyatakan kepada Dewan, "Mereka yang menggunaan senjata kimia di Suriah harus bertanggung jawab atas tindakan mereka." (stu)