Remaja yang hanya ingin dikenal dengan nama Yasmin ini sebenarnya sudah berhasil kabur dari ISIS. Namun saat Yasmin sedang berada di satu kamp penampungan di Irak, ia merasa mendengar suara militan ISIS dari luar tendanya.
Ia lantas melumuri badannya dengan bensin dan membakar dirinya sendiri. Kobaran api itu membakar rambut dan wajahnya begitu parah sampai-sampai menghancurkan hidung, bibir, dan telinganya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak perempuan Yazidi memang berhasil kabur, tapi sekitar 3.000 orang lainnya masih terperangkap di wilayah ISIS.
Yasmin yang kala itu masih berusia 16 tahun sebenarnya sudah berhasil kabur ke pegunungan Sinjar bersama ribuan orang lainnya. Namun, ia terpisah dengan keluarganya dan akhirnya tertangkap oleh ISIS.
Ia pun disiksa dan dijadikan budak seks bahkan masih dipaksa melayani para militan ISIS hingga tujuh hari sebelum berhasil kabur. Yasmin mengaku trauma bahkan hanya dengan mendengar suara yang mirip militan ISIS.
"Suara mereka selalu ada di telinga saya. Saya bisa mendengar suara mereka. Saya sangat takut. Saya tidak sanggup lagi menghadapi ini semua," tutur Yasmin seperti dikutip The Independent.
Beruntung, Yasmin akhirnya bertemu dengan seorang dokter dan psikiater yang akhirnya membawanya ke Jerman, Jan Ilhan Kizilhan. Kala itu, Kizilhan sangat khawatir melihat luka bakar yang menutupi 80 persen tubuh Yasmin.
Kizilhan sendiri merupakan dokter yang sudah sangat berpengalaman dalam hal merawat korban trauma perang. Korban-korban Rwanda dan Bosnia sudah pernah ditangani oleh Kizilhan, tapi kasus ISIS ini sangat berbeda.
"Jika kalian melihat gadis berusia 8 tahun di depan mata kalian dan mengatakan bahwa dia dijual delapan kali oleh ISIS dan diperkosa 100 kali selama 10 bulan, kalian akan berpikir bagaimana bisa manusia bersikap seiblis itu?" tutur Kizilhan.
Ia pun bertekad untuk merawat 1.100 perempuan yang kini ada di kamp Jerman tersebut dengan baik bersama tenaga psikiater dan dokter lainnya. "Perempuan-perempuan ini benar-benar membutuhkan perawatan khusus. Jika bukan kami, siapa lagi yang akan membantu?" katanya. (stu)