Namun, ia kehilangan kepercayaannya kepada kelompok militan tersebut ketika mereka mulai membunuh orang-orang, termasuk memenggal para korban di depan kamera.
"Kalian mengorbankan manusia layaknya ayam," ujar Duterte ketika sedang membahas kasus pemenggalan salah satu sandera Filipina yang masih berusia 18 tahun, Patrick Almodovar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah Filipina Selatan selama ini terus bergejolak dengan menjamurnya beberapa kelompok separatis Islam yang ingin mendirikan pemerintahan sendiri.
Karena Duterte kini sudah kehilangan kepercayaannya, ia akhirnya memerintahkan militer untuk "menghancurkan mereka karena mereka adalah pelaku kriminal."
Duterte mengatakan bahwa kini, tak ada gunanya lagi berbicara dengan Abu Sayyaf karena "tidak pernah akan ada perdamaian di daerah tersebut bahkan jika kami memberikan mereka otonomi."
Filipina, kata Duterte, sekarang sudah memiliki segala sumber daya untuk membinasakan Abu Sayyaf dalam waktu beberapa pekan.
Komando Mindanao di Filipina pun dikabarkan berhasil menewaskan 11 militan Abu Sayyaf pada Jumat lalu.
Juru bicara Komando Mindanao, Filemon Tan, mengatakan bahwa dalam baku tembak selama 45 menit tersebut, puluhan militan Abu Sayyaf lain juga terluka.
"Misinya jelas. Temukan dan hancurkan Abu Sayyaf. Artinya, itu adalah yang kami lakukan dan kami tidak akan berhenti sampai semuanya selesai," kata Tan seperti dilansir Reuters.
Sepanjang tahun ini, dua orang Kanada sudah dieksekusi, sementara 16 WNI bebas dengan dua orang berhasil kabur beberapa pekan lalu. (stu/stu)