Kepolisian Nasional Filipina pada Selasa (30/8) mengumumkan bahwa hampir 900 terduga pengedar dan pengguna narkoba tewas dalam operasi polisi dari 1 Juli hingga 20 Agustus.
Data itu menunjukkan terdapat 141 korban baru selama sepekan terakhir, dan rata-rata 20 warga tewas per hari dalam perang melawan narkoba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andanar mengungkapkan pada Senin (29/8) bahwa pihaknya tengah mempersiapkan iklan kampanye antinarkoba sepanjang 30 detik yang akan mulai ditayangkan pekan depan di sejumlah stasiun TV komersial dan bioskop.
Selain iklan, Andanar mengungkapkan pihaknya akan menerbitkan pamflet setelah 40 halaman untuk menjelaskan alasan soal banyaknya warga yang tewas dalam perang melawan narkoba.
"Mereka yang di luar negeri harus memahami mengapa banyak orang yang terbunuh dalam kampanye antinarkoba. Mereka harus memahami, ini adalah perang dan memakan korban," kata Andanar.
"Sejumlah orang yang tewas [dalam perang ini] adalah petugas polisi yang terlibat dalam aktivitas kriminal," tutur Andanar.
Sejak dilantik pada akhir Juni lalu, Duterte lantang menyuarakan kampanye antinarkoba. Namun, ribuan nyawa melayang karena ia membolehkan warga atau polisi menembak mati terduga pengedar dan pengguna narkoba di jalan-jalan. Praktik pembunuhan di luar hukum ini diduga akan meregangkan hubungan Filipina dengan sekutu utamanya, Amerika Serikat.
Rencana Pemberantasan Narkoba Nasional (NDAP) yang diajukan oleh Badan Obat-obatan Berbahaya kepada PBB, menyebut bahwa terdapat 6,7 juta kasus penggunaan narkoba di Filipina pada 2004. Jumlah ini menurun secara signifikan menjadi 1,7 juta kasus pada 2008, dan menurun kembali menjadi 1,3 juta kasus pada 2012.
Selain kisruh soal pemberantasan narkoba, Filipina juga tengah berupaya memberangus kelompok militan Abu Sayyaf, yang menyandera delapan anak buah kapal warga negara Indonesia. Bulan depan, Presiden Filipina Rodrigo Duterte bakal berkunjung ke Indonesia untuk membahas berbagai isu, termasuk soal penyanderaan ABK. (ama)