Diberitakan New York Daily News, Senin (12/9), peristiwa ini terjadi pada Sabtu lalu, sebelum peringatan 9/11. Insiden ini menimpa seorang turis Muslim asal Skotlandia di mal kelas atas di Manhattan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beruntung wanita tersebut berhasil memadamkan api di pakaiannya dan tidak terluka. Pelaku belum tertangkap dan Departemen Kepolisian New York (NYPD) menyelidiki kasus ini sebagai kejahatan berlandaskan kebencian.
Ibrahim Hooper, juru bicara Dewan Hubungan Islam-Amerika, menekankan pentingnya penyelidikan kasus ini.
"Saya jelas prihatin karena ini adalah gejala meningkatnya sentimen Islamofobia di masyarakat. Hal ini berdasarkan peningkatkan jumlah insiden kebencian di seluruh AS, dalam beberapa hari dan setahun terakhir," kata Hooper.
Peristiwa kali ini menambah panjang daftar kasus Islamofobia yang meningkat sejak peristiwa 9/11 yang menewaskan ribuan orang tahun 2001 lalu. Menurut data FBI, sepuluh tahun sejak 9/11, kasus serangan terhadap umat Islam meningkat 1.600 persen.
Dua hari sebelum peristiwa pembakaran itu, insiden lainnya dilaporkan di Brooklyn, New York, saat dua wanita Muslim diserang ketika tengah membawa bayi mereka di kereta dorong.
Polisi mengatakan pelaku yang bernama Emirjeta Xhelili, 32, berteriak kata-kata anti-Islam dan mencoba melepas hijab kedua wanita tersebut. Xhelili juga menyerang anak-anak mereka.
Akibat tindakan ini, dia didakwa atas penyerangan, pelecehan dan tindakan yang membahayakan anak-anak.
Sentimen anti-Islam juga merebak di Eropa dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang menarget warga Muslim. Beberapa kota di Perancis, contohnya, melarang penggunaan burkini oleh wanita Muslimah dengan alasan mencegah ektremisme. Pengadilan Tinggi Perancis mengatakan larangan ini tidak dibenarkan karena mengekang kebebasan seseorang. (den)