Protes pada Senin (19/9) itu dihadiri oleh ribuan orang, dan terjadi di tengah meningkatnya tekanan bagi Presiden Joseph Kabila untuk mundur dari jabatannya, yang seharusnya berakhir pada Desember kelak.
Kelompok oposisi menuding Kabila sengaja memperpanjang masa jabatannya, menunda pemilu yang seharusnya dilangsungkan pada November hingga setidaknya tahun depan. Namun pendukung Kabila membantah tudingan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Koalisi (kelompok oposisi) menyesalkan jumlah korban, lebih dari 50 orang tewas pada saat ini, korban penembakan peluru tajam oleh polisi dan penjaga republik," kata koalisi dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP.
Sebelumnya, kelompok HAM melaporkan puluhan pemrotes dan jurnalis ditangkap di Ibu Kota Kinshasa, juga di kota lain seperti Goma dan Kisangani, di mana protes juga berlangsung.
Juru bicara pemerintah mengonfirmasi penahanan pemimpin oposisi Martin Fayulu, yang menderita luka di kepala dalam demonstrasi.
Meski begitu, kelompok oposisi terus menyerukan pendukungnya untuk berdemonstrasi.
“(Koalisi oposisi) menyerukan kepada rakyat Kong dari hari ini dan seterusnya untuk mengintensifkan dan menyebarkan mobilisasi massa ini setiap hari hingga 19 Desember,” kata juru bicara partai oposisi.
Demonstrasi pada Senin merupakan respons dari keputusan komisi pemilu sepekan sebelumnya yang menetapkan penundaan pemilu presiden.
Namun sebelumnya, negara Afrika Tengah penghasil tembaga itu, tak pernah mengalami transisi politik secara damai.
Jutaan orang tewas pada perang regional di Kongo antara 1996 dan 2003 silam.
Sementara itu, akibat bentrok pada Senin, Amerika Serikat mengancam akan memberlakukan sanksi tambahan terhadap pihak yang bertangung jawab.
AS sebelumnya memberlakukan sanksi terhadap kepala polisi Kinshasa pada Juni lalu. Puluhan orang tewas dalam aksi serupa memprotes Kabila tahun lalu. (stu)