Masalah penghindaran pajak ini menjadi laporan New York Times pada Sabtu (1/10). Mereka menemukan dokumen yang menunjukkan Trump pernah mencatatkan kerugian sebesar US$916 juta saat melaporkan pajak penghasilan tahun 1995.
Dilansir dari New York Times, kerugian yang dilaporkan itu bermula dari masalah keuangan yang dihadapi Trump pada awal 1990-an. Saat itu dia salah urus bisnis tiga kasino di Atlantic City, kegagalan di bisnis penerbangan, dan pembelian Plaza Hotel di Manhattan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terungkapnya masalah pajak ini jelas menjadi kontroversi setelah Trump menolak melaporkan pengembalian pajaknya kepada pusat kampanye pemilihan presiden. Kubu Hillary Clinton pun memakai laporan pajak itu untuk menjatuhkan Trump dalam kampanye.
Tapi tim kampanye Trump mengatakan, sebagai pengusaha Trump berhak tak membayar pajak lebih besar dari yang diamanatkan perundang-undangan. Mereka juga menuding laporan New York Times menunjukkan bahwa media itu adalah perpanjangan tangan kubu Clinton.
Trump sendiri merespons masalah itu melalui akun Twitter-nya. Dia mengatakan, dirinya lebih tahu mengenai kompleksitas peraturan pajak dibandingkan siapapun yang pernah mencoba jadi presiden di negara itu.
Lebih lanjut Trump mengatakan, dirinya telah menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan dan akan menghadirkan kemakmuran bagi negaranya. “Hillary hanya menciptakan pekerjaan di FBI dan DOJ,” ujarnya.
Pada pernyataan lain, tim kampanye Trump mengatakan Trump sudah membayar ratusan juta dolar untuk pajak lainnya, seperti properti dan real estate.
Mereka menuding, dokumen pajak yang dijadikan bahan laporan New York Times didapatkan secara ilegal. “Ini menunjukkan bahwa New York Times, seperti media lainnya, adalah perpanjangan kampanye Clinton,” demikian pernyataan mereka.
Anehnya, seperti dilansir CNN, tim kampanye Trump sendiri tak langsung membantah tudingan New York Times. Mereka memang menyebutkan soal pembayaran pajak, tapi tak menyebutkan soal pembayaran pajak penghasilan. (ded/ded)