"Terima kasih untuk tindakan Anda hari ini, wara Suriah akan terus kehilangan nyawa mereka di Aleppo dan di luar [kota itu] akibat penegboman yang dilakukan Rusia dan Suriah. Tolong, berhentilah sekarang," ujar Duta Besar Inggris untuk PBB, Matthew Rycroft, kepada Vitaly Churkin, Dubes Rusia untuk PBB, dikutip dari Reuters.
Pilihan Redaksi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rusia telah menjadi salah satu pemasok teror utama di Aleppo, menggunakan taktik yang lebih mirip dengan preman ketimbang pemerintah," kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB, David Pressman, di hadapan para perwakilan negara anggota DK PBB.
Pressman menilai Rusia "berniat memungkinkan pembunuhan untuk melanjutkan dan, memang, berpartisipasi dalam melaksanakannya." Dia menyerukan agar Rusia "mengurangi bicara dan lebih banyak bertindak untuk mengakhiri pembantaian" di Suriah.
Rancangan resolusi DK PBB membutuhkan dukungan minimal sembilan suara dari negara anggota DK PBB. Rancangan resolusi yang disusun Perancis mendulang 11 suara, meski China dan Angola abstain. Namun, karena Rusia merupakan salah satu dari lima negara anggota tetap DK PBB yang memiliki hak veto, resolusi tetap dapat dibatalkan.
Sementara, rancangan resolusi Rusia hanya meneruima empat suara, sehingga gagal disahkan tanpa perlu veto.
Baik Perancis maupun Rusia menyusun rancangan resolusi yang menyerukan gencatan senjata dan akses bantuan kemanusiaan di seluruh Suriah.
Ini adalah kali kelima Rusia menggunakan hak vetonya atas rancangan resolusi PBB soal konflik Suriah.
Dalam empat veto sebelumnya, China mendukung Rusia dalam melindungi pemerintah Suriah, termasuk memveto rancangan untuk membawa konflik Suriah di Mahkamah Pidana Internasional. (ama)