Kamis lalu, Dewan Eksekutif UNESCO di Paris meloloskan draf keputusan soal situs suci Yerusalem. Draf itu menyebut soal pentingnya situs itu bagi tiga agama—Kristen, Islam dan Yudaisme—namun tidak membahas soal betapa pentingnya situs bagi umat Kristen dan Yahudi.
Draf tersebut banyak mengkritik aksi Israel di Yerusalem, Tepi Barat dan Gaza. Diusulkan oleh negara-negara Arab, draf itu mendapat tentangan dari Israel dan Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyusul pemungutan suara oleh UNESCO, Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennet lewat surat menyatakan bahwa Israel akan membekukan semua aktivitas profesional dengan UNESCO.
Mark Toner, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS juga mengkritik draft dari UNESCO.
AS sendiri menghentikan sumbangan dana bagi UNESCO pada 2011 setelah badan itu menerima keanggotaan penuh Palestina. Sebelumnya, Washington memberi US$80 juta setahun kepada UNESCO.
Resolusi terbaru UNESCO diajukan oleh negara Arab termasuk Mesir, Aljazair, dan Qatar. Sebanyak 24 negara mendukung resolusi, empat menolak, dan 26 absen.
“Palestina akan terus mempertahankan hak rakyat kami melalui semua kesempatan legal dan diplomatik yang tersedia, termasuk organisasi PBB,” ujar Kementerian Luar Negeri Palestina dalam pernyataan. "Agenda damai kami tidak akan rusak oleh propaganda, juga toleransi dan kepatuhan kami terhadap hukum internasional tidak akan diubah oleh kesalahan dan sikap sinis."
Wilayah situs suci Yerusalem bagi umat Muslim merupakan lokasi Nabi Muhammad mengalami Isra Miraj, bagi umat Yahudi dan Kristen merupakan fondasi di mana Adam diciptakan serta lokasi Ibrahim akan mengorbankan anaknya Ismail. Bagi Yahudi situs itu juga merupakan situs Kuil Pertama dan Kedua.
Keputusan draft itu akan final sebelum sidang pleno Dewan Eksekutif UNESCO pada Selasa besok: apakah akan diadopsi atau akan diperdebatkan lebih lanjut. (stu)