Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi, mengatakan keempat WNI tersebut adalah bagian dari 26 ABK yang diculik dari kapal ikan Taiwan, yang dioperasikan oleh salah satu perusahaan Oman pada tahun 2012 lalu. Selain dari Indonesia, para ABK berasal dari Kamboja, China, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.
Sebenarnya ada 29 ABK dalam kapal itu, namun beberapa di antara mereka tewas dalam penyerangan atau meninggal karena sakit saat disandera. Salah satu yang tewas adalah ABK asal Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keempat WNI itu harus melakukan pemeriksaan kesehatan yang memakan waktu beberapa hari sebelum bisa dipulangkan ke Indonesia. Saat ini, kata Retno, para ABK termasuk empat WNI telah diterbangkan ke Nairobi, Kenya, menggunakan pesawat PBB.
"Proses pelepasan sandera terus dilakukan oleh pihak Kemlu dan BIN bekerja sama dengan negara lain terkait dengan bantuan LSM Internasional dan PBB," kata Retno.
Retno mengatakan selama dua tahun terakhir Kemlu RI terus melakukan koordinasi dengan keluarga ABK di Indonesia. Negosiasinya sendiri berlangsung alot dan panjang, tidak diketahui apakah ada pembayaran tebusan dalam hal ini.
"Pada akhirnya, keselamatan para WNI di luar negeri tetap menjadi prioritas pemerintah Indonesia," tutur Retno menambahkan.
Penyanderaan terhadap awak Naham 3 ini menjadi kasus terlama kedua yang dilakukan oleh perompak Somalia. Sebelumnya pada Februari 2015, perompak Somalia juga membebaskan empat orang awak kapal FV Prantalay setelah disandera sejak April 2010.
Aksi perompak Somalia menjadi mimpi buruk aktivitas maritim dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, perompak Somalia kerap meminta uang tebusan untuk setiap kapal yang dibajak di lepas pantai Somalia sehingga berimbas pada menurunnya pendapatan dari sektor pariwisata di negara-negara sekitarnya. (den)