Menurut keterangan kelompok petugas penyelamat, Pertahanan Sipil Suriah, dalam akun Facebook mereka, serangan udara itu menghantam wilayah perumahan di Desa Haas, Provinsi Idblib.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"[Serangan] ini adalah sebuah tragedi, memicu kemarahan. Dan jika disengaja, ini adalah sebuah kejahatan perang," kata Kepala UNICEF, Anthony Lake, dikutip dari AFP.
Lake mengungkapkan bahwa kompleks sekolah itu "berulang kali diserang," dengan skala besar. "Kapan kemarahan publik terhadap kebiadaban seperti ini akan sejalan dengan upaya bahwa semua ini harus dihentikan?" ujarnya.
Ditanya soal serangan itu, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, hanya menyatakan, "Ini sesuatu yang mengerikan sekali, saya berharap kami tidak terlibat."
Sejumlah kelompok pemerhati HAM menuding bahwa pasukan Suriah dan Rusia bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap warga sipil di wilayah yang dikuasai pemberontak.
"Salah satu roket menghantam pintu masuk sekolah saat siswa hendak keluar kelas untuk pulang. Pihak sekolah memutuskan untuk mengakhiri kelas karena adanya serangan," kata aktivis yang identitasnya tak dipublikasikan kepada AFP.
Serangkaian serangan terjadi di Provinsi Idlib dalam sepekan terakhir, menewaskan 89 orang, menurut data dari Observatory. (ama)